LOMBOK TENGAH, 12 Februari 2026 – Proyek pembangunan dan rehabilitasi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sade di Desa Barebali menghadapi dugaan penggunaan material tidak sesuai standar, dengan indikasi penambahan volume bahwa pagu dana senilai rp 950.830.000 .Di kerjakan dengan sistim swakelola keterangan Hery guru kelas di ruang Kepsek.
Menurut Hery ( guru kelas) semua matrial atau bahan bangunan yang di beli sesuai dengan rancana anggaran belanja( RAB).Pembelian atap muulty room sesuai standar dengan ketebalan berpariasi dari 0, 30 mm dan 0, 35 mm.Benar atau tidak perlu di uji kebenaran .Kalau rangka baja seperti canal dan reeng tidak di sebut ketebalanya, tetapi ada yang di sebut antara 0, 40 mm.
Menurut konsultan Rumlan yang di hubungi lewat via telpun oleh awak media juga hampir sama keterangan sama Hery, bahwa pembangunan gedung dan rehabilitasi SD Negeri Sade Desa Barebali Kec batu Kliang Kab Lombok Tengah sesuai dengan spekulasi tehnis.
Sesuai dari keterangan Rumlan ( konsultan ) dan Hery (guru klas) mengatakan adanya penambahan volume yaitu pemasangan keramik lantai di ruang guru.Jika penambahan volume yang di lakukan oleh pihak pelaksana kegiatan dangan pagu dana yang sudah di tetapkan akan mengakibatan penurunan kualitas dari bangunan itu sendiri.
Dari hasil observasi di lokasi terbukti kualitas menurun pada pemasangan keramik dinding belum mencapai dua bulan sudah terlepas.
Selain itu, pengembangan volume pekerjaan dengan alokasi anggaran yang telah ditetapkan diduga tidak tepat, yang diperkirakan menjadi penyebab penurunan kualitas konstruksi secara keseluruhan. Sangat perlu pihak terkait menilai bahwa proses penyesuaian antara volume pekerjaan dan anggaran perlu diteliti lebih mendalam untuk memastikan tidak ada penyimpangan yang dapat mempengaruhi mutu bangunan.
Sistem rangka baja yang digunakan sebagai struktur utama juga menjadi objek pemeriksaan. Dari hasil observasi visual, terdapat peluang adanya pengurangan kualitas material, khususnya dari segi ketebalan canal dan reeng yang diduga tidak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang berlaku. Pemeriksaan teknis lebih lanjut oleh tenaga ahli dan pihak berwenang diperlukan untuk memverifikasi dugaan ini.
Pada bagian interior, pengecatan ruang kelas dinilai masih dalam kondisi sangat sederhana dengan permukaan dinding yang masih tampak kotor. Tampaknya proses pembersihan permukaan sebelum pengecatan belum dilakukan secara maksimal, yang tidak hanya mengurangi nilai estetika namun juga berpotensi memengaruhi kenyamanan lingkungan belajar siswa.
Selain itu, daun pintu yang telah dipasang di berbagai ruangan diduga berasal dari kayu yang bukan hasil olahan standar untuk konstruksi bangunan, bahkan kemungkinan besar berasal dari kayu kebun yang tidak memenuhi spesifikasi. Apabila dugaan ini terbukti benar, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan dengan cepat, seperti melengkung akibat perubahan suhu dan kelembapan, atau mengalami pelapukan dalam waktu singkat.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak kontraktor pelaksana maupun instansi pengawas proyek. Masyarakat setempat berharap akan adanya proses klarifikasi yang transparan dan evaluasi menyeluruh untuk memastikan fasilitas pendidikan ini memenuhi standar kualitas dan keselamatan yang dibutuhkan bagi siswa dan tenaga pendidik.Dan sangat perlu di ingat proyek ini bisa terlaksana berdasarkan pajak yang terkumpul.
